Skip to content
June 11, 2010 / mutiaranews

FILOSOFI AIR JUMPRIT DALAM WAISAK 2010

Prosesi pengambilan air di Umbul Jumprit  Desa Tegalrejo Kecamatan Ngadirejo Temanggung sebagai air suci Waisak merupakan rangkaian tak terpisahkan dalam peringatan Tri Suci Waisak yang puncak acaranya digelar di Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Jumat ( 28 / 5 ). Puja bakti dilakukan oleh para bikhu dari Dewan Sangha Walubi yaitu Sangha Theravada, Tantrayana dan Mahayana serta ummat Buddha berlangsung dengan khidmat di Sasana Puja Bakti Obyek Wisata Jumprit, Senin (24/5). Air suci jumprit langsung dibawa ke altar candi Borobudur untuk disakralkan pada saat detik-detik Waisak.

Hakekat peringatan waisak adalah memperingati tiga peristiwa suci bagi ummat Buddha (Tri Suci) yang jatuh pada hari yang sama yaitu kelahiran Sidharta Gautama, pencapaian penerangan sempurna di hutan Gaya, India tahun 588 SM dan wafatnya Sang Buddha. Peringatan itu ditandai dengan detik-detik Waisak pukul 06.07.03 dan saat itu ummat Budhha melakukan meditasi untuk mengenang sifat-sifat luhur Sang Budha. Ritual do’a juga dilakukan dalam acara puja bhakti di candi Mendut dan Borobudur oleh para Bikhu dengan membaca paritta, sutra dan mantra.

Air Jumprit merupakan bagian yang sangat sakral sebagai Air Suci Waisak untuk dibagikan kepada ribuan ummat yang memadati altar Borobudur. Rangkaian tak terpisahkan adalah pengambilan Api Alam dari Mrapen Kabupaten Grobogan yang juga dibawa ke altar Borobudur dan melengkapi Air Suci dari Jumprit. Air menurut filosofinya menggambarkan kesucian dan ketenangan bathin sedangkan api adalah gambaran dari sifat emosi manusia, hasrat dan semangat, yang membuat pancaran cerah dan menghapuskan suram menjadi terang bersahaja. Itulah yang disebut dengan Api Dharma yang melambangkan sifat kejujuran, keadilan dan kebijaksanaan yang semuanya dikendalikan oleh emosi.

Filosofi air menurut Suku Maybrat (Suku di Papua yang kental dengan filosofi dunia), bahwa manusia diibaratkan sebagai air yang tenang yang mana perlakuan mereka dapat dinilai dari karakter atau tabiat yang mengagumkan orang lain. Air yang tergenang / tenang mampu menerampungkan segala sesuatu yang terapung dalam waktu yang lama tanpa membasahi sekujur benda terapung itu. Namun air yang mengalir, tidak dapat menyimpang atau merampungkan benda – benda tersebut dalam waktu yang lama apalagi tanpa membasahi sekujur tubuhnya, dan air yang mengalir deras bukan hanya membasahi atau membawa segala sesuatu menjadi hilang tetapi juga membuat kebisingan dan tak ada seekor hewan sungai yang hidup disekitarnya.

Sedangkan filosofi api adalah sifat yang membakar,  bermakna manusia hidup hendaknya harus senantiasa bersemangat dalam meraih cita-cita, selalu berkobar gairah untuk mencapai yang terbaik. Sifat api yang selalu naik keatas, bermakna .dalam hidup manusia hendaknya selalu bercita-cita tinggi, jangan rendah diri, karena potensi kita jauh lebih besar dari hambatan yang ada. Sifat api yang panas, bermakna dalam kehidupan yang serba penuh masalah ini dibutuhkan banyak pemikiran, banyak aksi, sehingga kita tidak terbakar oleh masalah tapi kitalah yang mengendalikan masalah sehingga semuanya menjadi tenteram.

Ketua Walubi Siti Hartati Murdaya mengatakan, api ini melengkapi air suci yang telah disemayamkan di altar Candi Borobudur sebelum detik-detik waisak. Air dan api adalah sumber dari kehidupan. Air memiliki makna sejuk yang diharapkan bisa membuat hati manusia bersahaja, sedangkan api merupakan simbol penerangan dan kekuatan. “Setiap manusia membutuhkan penerangan dalam hidupnya untuk mencapai kebahagiaan” paparnya. Ketika api menimbulkan gejolak karena emosi tidak terkontrol, maka air dapat menyiramnya sehingga kehidupan kembali normal dan sejuk. Dengan demikian maka air suci dan api dharma dalam waisak adalah saling melengkapi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.

Menabur Kebajikan

Perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur yang dihiasi dengan 750 buah lampion dari Thailand dihadiri ribuan ummat Budhha merupakan atraksi wisata yang menarik di Candi peninggalan abad VIII ini. Megahnya Borobudur Jumat malam (28/5) itu ditunjang dengan pencahayaan yang optimal sehingga Borobudur terkesan mandi cahaya. Sebelum pelepasan lampion, umat Buddha dan para bhikku melakukan pradaksina atau menglilingi candi sebanyak tiga kali. Aneka warna lilin menghiasi altar utama yang marak dengan  buah-buahan, rangkaian bunga, dan patung Sang Buddha berwarna kuning emas. Waisak kali ini melibatkan sedikitnya 200 bikhu dari Taiwan, Thailand, Singapura, Malaysia, China, Inggris, dan Australia.

Tema peringatan kali ini adalah Menabur Benih Kebajikan, dengan dharma membangun karakter bangsa. Tema ini mengambil salah satu ajaran Buddha, bahwa setiap umat harus sebanyak mungkin berbuat baik kepada lingkungan sekitarnya dan hasilnya berupa kebajikan juga akan dipetik kelak. Salah satu perwujudannya adalah kegiatan melepas satwa yang dilakukan oleh Cetya Pelangi Ksitigarha. Acara Satwamocana ini dilandasi dengan paritta-paritta yang menandaskan bahwa mahaguru berkata diantara seluruh pahala perbuatan baik, pahala dari melepaskan satwa adalah pahala yang paling besar dan paling unggul, akan menambah kemakmuran dan berkah, karena melepaskan satwa berarti menyelamatkan nyawa makhluk hidup, pahalanya takterhingga.

Sepuluh larangan

Prosesi puja bakti dilakukan juga di Candi Mendut Jumat pagi ( 28/5) oleh para bikhu dan ummat Buddha. Usai puja bakti dilanjutkan perjalanan kirap dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Terdepan adalah pembawa Garuda, disambung panji-panji budha, pembawa kendi air suci dari Jumprit, barisan para bikhu dan diikuti ummat Buddha. Mereka semuanya membawa bendera kecil berhias warna merah, putih, biru dan kuning. Bukan sekedar hiasan kertas identitas tetapi warna itu memiliki makna yang diyakini mereka. Warna itu diambil dari sejarah Sidharta Gautama semasa kecil memiliki tiga kolam bunga teratai berwarna merah, biru dan putih. Sedangkan kuning adalah warna keagungan yang memencarkan kebersahajaan, kelembutan dan kasih sayang.

Sidharta Gautama adalah seorang Pangeran, putra dari Sri Baginda Raja Suddhodana dan ibunya adalah Ratu Mahamaya Dewi di wilayah Timur Laut, India.

Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai. Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta di dalam istana mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala), Merah (Paduma) dan Putih (Pundarika).

Hidup dalam istana, Sidharta merasa tertekan batinnya. Akhirnya pada umur 29 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan istana dan menjadi pengembara. Dalam pengembaraannya itu Sidharta bertapa di hutan Uruwella ditepi sungai Nairanjana yang mengalir ke hutan Gaya. Tempat pertapaannya kemudian pindah ke bawah pohon bodhi hingga usia 35 tahun dan disitulah mencapai pencerahan sempurna tepat pada bulan Purnama Raya di bulan Waisak. Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti, kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan, merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih, putih mengandung arti suci, jingga berarti giat dan campuran kelima sinar tersebut.

Buddha Gautama kemudian menyebarkan darma serta melakukan syiar agama Budhha bersama 5 pertapa yang mendampinginya. Dalam khotbah pertamanya ia mengikrarkan Empat Prasetya Cinta Kasih yaitu berusaha menolong semua makhluk, menolak semua keinginan nafsu keduniawian, mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma dan berusaha mencapai Pencerahan Sempurna. Buddha Gautama juga melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yaitu pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah, penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat, kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.—(Budhy HP)—

Kirap Air Jumprit dari Candi Mendut ke Altar Candi Borobudur

Pemberkahan air suci waisak di Jumprit

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: