Skip to content
June 11, 2010 / mutiaranews

SITUS LIANGAN DI TEMANGGUNG

MENGUNGKAP KEHANCURAN MATARAM KUNO KARENA LETUSAN   GUNUNG MERAPI

Ditemukannya tulang-tulang manusia dan serpihan guci serta pondasi bangunan rumah yang diperkirakan sebagai tempat pemujaan Hindu yang  terkubur pasir vulkanik di Liangan desa Purbosari kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung belum lama ini merupakan pertanda bahwa ada kehidupan masyarakat yang ditengarai sebagai Masyarakat Hindu di jaman Kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 732 Masehi di abad ke 8. Pemerintah Kabupaten Temanggung akan membeli areal tersebut yang saat ini merupakan tempat penambang pasir. “Pembelian areal sesuai rekomendasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah untuk mengamankan Situs Liangan sekitar 6.000 meter persegi, namun dalam perkembangannya nanti dimungkinkan bisa mencapai 2 hektar,” kata Bupati Temanggung, Hasyim Afandi.

Situs Liangan sebenarnya sudah diketahui sejak 2008 ketika pertama ditemukan bebatuan candi oleh penggali pasir warga Liangan. Belakangan ketika pasir diambil makin dalam ternyata ditemukan lagi altar bangunan runtuh dan diperkirakan tempat itu adalah tempat pemujaan oleh masyarakat Hindu. Kini penggalian terus dilakukan dengan tetap mengamankan lokasi situs, sedangkan benda-benda purbakala yang ditemukan berupa tulang dan pecahan guci dibawa ke kantor BP3 Jawa Tengah untuk diteliti. Petugas dari Balai Arkeologi Yogyakarta juga menemukan potongan kayu yang sudah menjadi arang yang diduga sebuah tiang bangunan rumah tersebut.

Adanya benda-benda purbakala di Liangan itu memberikan gambaran bahwa ketika itu terdapat kehidupan masyarakat yang beragama Hindu. Hal ini tersirat dalam Prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan bahwa Raja Sanjaya adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya yang bertahta di Jawa Tengah. Raja Sanjaya mendirikan candi-candi untuk memuja Dewa Siwa. Sanjaya juga belajar agama Hindu Siwa dari para pendeta yang ia panggil. Sanjaya meninggal pada pertengahan abad ke-8 dan kedudukannya di Mataram digantikan oleh Rakai Panangkaran ((760-780), dan terus berlanjut sampai masa Dyah Wawa (924-928).

Peninggalan sejarah yang terdekat dengan Liangan adalah Candi Pringapus yang didirikan tahun 856 M yang beraliran Hindu Sekte Siwaistis. Candi ini terletak di desa Pringapus kecamatan Ngadirejo berjarak 5 km dari Liangan. Dengan demikian ada kesamaan aliran antara situs Pringapus dengan Liangan yang bisa ditarik garis pembenaran bahwa ketika itu adalah masa pemerintahan Raja Sanjaya hingga Dyah Wawa yang kemudian digantikan oleh Mpu Sindok (929) dari Dinasti Isyana dengan pusat pemerintahan pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10.

Runtuh karena Vulkanik?

Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu atau sering juga disebut  Kerajaan Medang adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Medang pada masa pemerintahan Mamrati (zaman Rakai Pikatan) dan pada masa  Poh Pitu (zaman Dyah Balitung) berpusat pemerintahan di wilayah Kedu. Wilayah Kedu ini diprediksikan mencapai eks Karesidenan Kedu dan terbukti banyak peninggalan candi seperti candi Borobudur, Mendut, Pawon dan Candi Dieng yang dibangun pada masa raja-raja dari Wangsa Sanjaya.

Agama resmi Kerajaan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa. Ketika Wangsa Sailendra berkuasa, agama resmi kerajaan berganti menjadi Buddha aliran Mahayana. Kemudian pada saat Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya berkuasa, agama Hindu dan Buddha tetap hidup berdampingan dengan penuh toleransi. Masyarakat Mataram Kuno pada umumnya hidup dari bercocok tanam.  Tentang kehidupan keagamaan yang penuh toleransi ini bisa digambarkan dari Air Jumprit yang digunakan sebagai air suci bagi ummat Hindu di Candi Pringapus tetapi  diambil juga sebagai Air Suci ummat Buddha yang tiap tahun disakralkan di Candi Borobudur (bangunan suci Buddha Mahayana) pada peringatan Tri Suci Waisak.

Pemerintahan Wangsa Sanjaya di Mataram Kuno ini berakhir pada abad ke-10 digantikan Wangsa Isyana yang berkedudukan di Jawa Timur (929 M). Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno disebabkan oleh kekalahan perang ataukah karena proses vulkanik, masih menjadi dilema atas hasil penelitian para sejarawan. Jika melihat fakta sejarah bahwa benda-benda purbakala berupa candi-candi Hindu dan Budha tersebut ditemukan terkubur pasir dan abu vulkanik, maka bisa juga runtuhnya Mataram Kuno kemudian pindah ke Jawa Timur itu karena proses Vulkanik. Jika demikian maka gunung berapi yang terdekat dengan wilayah Kedu termasuk Liangan adalah Gunung Merapi dengan letusan dahsyatnya tahun 1006 M.

Sejarawan Labberton (1922) dan Bemmelen (1949) mengaitkan kemungkinan penyebab runtuhnya kerajaan tersebut dengan kejadian vulkanik. Mereka  berasumsi bahwa letusan pada tahun 1006 telah mengakibatkan perpindahan Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur. Lebih lanjut Bemmelen (1949) menghubungkan letusan tersebut dengan runtuhnya bagian puncak Merapi ke arah barat. Dijelaskan bahwa letusan besar tahun 1006 terjadi akibat pergerakan tektonik sepanjang sesar transversal yang menjadi dasar deretan Gunung Api dari Gunung Ungaran sampai gunung Merapi.

Diperkirakan gempa menyertai pergerakan tersebut dan merusak sebagian Candi Borobudur dan Mendut yang dibangun pada abad ke-9. Aktivitas tektonik ini diikuti dengan terjadinya longsoran Merapi dan letusan besar yang produk letusannya diperkirakan menutup candi-candi tersebut, merusak kehidupan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah, dan membendung aliran Kali Progo. Dengan menarik benang pembenaran sejarah ini maka situs Liangan yang terkubur pasir sedalam 4 – 6 meter bisa diasumsikan bahwa disitu terdapat kehidupan masyarakat Mataram Kuno yang kemudian terkubur bersama bangunan dan benda-benda perabotan rumahnya oleh lahar dingin hasil letupan gunung Merapi.

Tetapi ada versi lain yang mengungkap kehancuran Mataram Kuno. Di dalam prasasti Kalkuta yang ditemukan di India tahun 1041 yang juga dikenal dengan Prasasti Pucangan, dinyatakan bahwa telah terjadi bencana besar (pralaya) pada tahun 928 Saka (1006) akibat serangan Raja Wurawari dari Lwaram terhadap Kerajaan Mataram Hindu. Hal ini juga dikuatkan oleh Kern (1913) yang mengemukakan bahwa runtuhnya Kerajaan Mataram Hindu disebabkan oleh perang. Lalu, manakah yang benar?  Jika melihat kenyataan bahwa candi-candi Hindu – Budha peninggalam Mataram Kuno ketika ditemukan dalam posisi terkubur tanah dan pasir serta abu vulkanik, maka bisa diasumsikan runtuhnya Mataram Kuno periode Jawa Tengah adalah karena vulkanik utamanya akibat letusan dahsyat Gunung Merapi. –(Budhy HP)—

Pondasi rumah dari batuan vulkanik

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: