Skip to content
June 11, 2010 / mutiaranews

MEMBANGUN IMAJINASI PUBLIK DENGAN “ROH PELESTARIAN BUDAYA”

FESTIVAL KESENIAN TRADISONAL DI TEMANGGUNG

Alunan musik gamelan yang begitu kompak dengan hentakan kendangnya terdengar nyaring dari kejauhan di seputar Taman Kartini Kowangan Temanggung. Sejak pagi hingga sore berganti-ganti irama dan warna musiknya. Namun semuanya bernuansa tradisional dan kerakyatan. Bukan sekedar irama music yang mantap tetapi kekompakan juga bisa dilihat langsung dari penampilan gerak tari para pemainnya yang begitu dijiwai dengan “roh pelestarian budaya”. Jiwa dan semangat dalam pentas itu dilandasai dengan keikhlasan untuk ikut membangun imajinasi publik bahwa kesenian tradisional merupakan aset budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan.

Suasana di Taman Kartini Temanggung selama 3 hari di akhir Mei 2010 itupun tak henti dengan hiruk pikuk  arus pengunjung yang ingin menyaksikan aneka kesenian tradisional itu. Gaung Festival Kesenian Tradisional menerobos pelosok desa sehingga masyarakat berdatangan untuk menonton atraksi gratis yang digelar oleh Sanggar Pareanom Temanggung. Meskipun anggaran kegiatan berasal dari Non Government (NGO) tetapi dukungan motivasi dari Dinas BUDPARPORA Kabupaten Temanggung cukup mendorong kinerja panitia festival. Pesertanyapun tidak tanggung-tanggung mencapai 67 grup kesenian se Kabupaten Temanggung. “Minat para pelaku kesenian untuk mengikuti festival sangat tinggi. Ini merupakan pertanda bahwa seni tradisional telah melekat dihati masyarakat”, papar Kepala Bidang Kebudayaan Drs. Didik Nuryanto.

Sedikitnya ada 14 jenis kesenian tradisional tercatat sebagai peserta festival. Sedangkan ketika digelar festival akbar tahun lalu, jumlah jenis kesenian memecahkan rekor MURI yaitu sebanyak 40 jenis. Tetapi ketika itu pentasnya dalam waktu yang bersamaan, sedangkan kegiatan festival saat ini pentasnya satu persatu masing-masing 30 menit sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk 67 peserta. Menurut jenisnya peserta festival yang tampil diantaranya Kuda Lumping, Kobrosiswo, Sorengan, Topeng Ireng, Warokan, Reogan, Gatholoco, Bangilun, Kuntulan, Lengger, Dayakan, Wulangsunu, Cakar Lele dan Prajuritan.

Penilaian pementasan kesenian terbaik bukan sekedar dilihat dari gebyarnya yang banyak diwarnai oleh kostum yang indah, baru maupun warna yang cerah, tetapi kesenian yang baik harus memenuhi criteria yang baku. Kriteria penilaian itu adalah penguasaan teknis media ekspresi dengan bobot 35%, kreatifitas 25%, tata gerak 15%, tata iringan / gending 15% dan tat arias – busana 10%. Dengan melihat komposisi itu maka kesenian yang baik bukan ditunjukkan oleh busana yang baik tetapi cenderung pada penguasaan teknis dan kreatifitas. “Jadi tidak benar adanya anggapan masyarakat bahwa kostum yang bagus pasti menang”, papar Didik sambil menambahkan kostum yang bagus bisa dibeli setelah gerak tari sudah dikuasai dengan profesional.

Tidak kesurupan

Penilaian versi penonton beda lagi, menurut Subandi yang mengaku maniak kuda lumping, dia lebih suka menonton pemain kuda lumping yang kesurupan. Alasannya banyak gerak tari yang lucu ketika pemain itu kesurupan. Bahkan ada adegan-adegan yang bikin penasaran karena pemain itu makan kaca neon bagaikan makan kerupuk. Ada pula yang mengupas kelapa cukup dengan kekuatan giginya. Terkadang gerak tarinya juga sangat menyerupai kera atau perilaku binatang lainnya. Tetapi itu semua tidak ditemui dalam festival karena sebelumnya sudah diadakan temu tehnik dan pemain kesurupan akan mendapat nilai rendah karena tidak memenuhi criteria penguasaan teknis dan kreatifitas.

Meski tidak ada atraksi kesurupan namun penampilan berbagai jenis kesenian yang dilakukan puluhan grup kesenian itu cukup membuat penonton kagum dan terhibur. “Ternyata di Temanggung banyak menyimpan potensi seni tradisional yang selama ini terpendam dan masyarakat tidak tahu karena jarang dipentaskan di tempat hiburan umum seperti ini”, komentar Wartono ketika menyaksikan penampilan Topeng Mas. Tari topeng yang kemudian disebut Topeng Ireng atau Topeng Ma situ menggambarkan suasan para abdi dalem keratin yang tengah menggembalakan kerbau piaraannya. Mereka mencari rumput, dimasukkan keranjang dan digendong . Semua bernuansa pedesaan yang dilambangkan dengan gerak dan tari atraktif.

Mengembangkan kreatifitas seni dalam budaya masyarakat memang butuh ketekunan. Seperti pepatah “tidak semudah membalik telapak tangan” karena menyangkut latar belakang pendidikan dan budaya mereka para pemain serta pembina kesenian di desa itu. Tetapi dengan sentuhan ketelatenan dan nuansa kekeluargaan seperti yang dilakukan Bidang Kebudayaan sebagai fasilitator dan motivator pengembangan seni budaya, maka lahirlah semangat berkesenian yang visualisasinya bisa dilihat melalui festival ini. Memang tidak hanya cukup dengan sumbangan tenaga para seniman tetapi juga membutuhkan biaya untuk membesarkan grup keseniannya.

Salah satu contoh yang harus diadakan dengan biaya mahal adalah pakaian kesenian. Harga sebuah kuluk / irah-irahan saja mencapai Rp. 600.000 per buah. Sedangkan pakaian kuda lumping yang disebut badong harganya sekitar Rp. 450.000 per buah. Kalau jumlah pemainnya dalam satu grup ada 15 orang maka tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Belum lagi kelengkapan lainnya termasuk alat music gamelan, kendang dan bahkan banyak yang mulai menggunakan keyboard. “Kreatifitas mereka mengalami perkembangan sangat menggembirakan”, papar Didik yang juga pimpinan Sanggar Pareanom.

Dari sejumlah jenis kesenian yang masuk dalam rekor MURI, yang perkembangannya paling cepat adalah kesenian Kuda Lumping sebagai tervaforit, kemudian musik religius Rebana dimana hampir 60 persen desa memiliki. Kesenian Dayakan dan Topeng Ireng juga makin berkembang, jumlahnya mencapai 14 grup. Meskipun kostum Dayakan dan Topeng Ireng tergolong mahal tetapi banyak yang menyukai pendirian grup ini karena penampilannya elegan dan ada unsur kreasi, modifikasi serta merupakan hasil karya yang dinamis.

Dari 67 peserta festival, 30 persennya adalah grup Kuda Lumping. Meskipun bukan kesenian khas Temanggung tetapi Kuda Lumping memang banyak digemari masyarakat. Di daerah lainpun Kuda Lumping banyak dijumpai dengan berbagai kreasinya masing-masing. Adapun hasil kejuaraan festival adalah Juara I Kuda Lumping Beksa Turangga desa Ngaditirto Selopampang, Juara II Bangilun Sri Lestari Kledung, Juara III Soreng Tunggul Putra desa Jetis Selopampang, Juara Harapan I Dayakan ( Topeng Ireng ) Cipta Manunggal Kecamatan Pringsurat, Juara Harapan II Kuda Lumping Asmara Tunggal desa Kemiri Kaloran dan Juara Harapan III Kuda Lumping Reksa Budaya desa Tlahab kecamatan Kledung. Mereka mendapat throphy dan uang pembinaan.—(Budhy HP)

Tari Bangilun

Tari Prajuritan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: